Selasa, 27 Maret 2012

Mencegah Jurus Lokal Punah

GELAK tawa terdengar dari aula Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia (TMII), Sabtu (3/10) lalu. Sekitar 10 orang tengah berdiskusi dan bergurau di aula latihan terbuka. Mereka adalah pesilat dari perguruan silat betawi Cingkrik Goning. Selain murid-murid Cingkrik, pesilat dari aliran lain juga berlatih di areal padepokan. Inilah bentuk kegiatan yang dikoordinir Komunitas Sahabat Silat.


Eko Hadi, salah satu pendiri Sahabat Silat, menyatakan tujuan utama mereka adalah melestarikan berbagai aliran silat asli Indonesia. "Kami memiliki harapan agar silat tradisional diminati dan dicintai generasi muda," katanya. Eko mengungkapkan, aliran atau perguruan silat tradisional saat ini terpinggirkan. Hanya sedikit anak muda yang mau mempelajari pencak silat. Ini kontras dengan minat anak-anak muda untuk menekuni berbagai cabang beladiri asing. "Ini yang membuat kami khawatir," ujarnya.

Kegelisahan itu biasanya mereka tuangkan dalam mailing list pencinta silat yang memiliki alamat di silatindonesia@yahooogroups.com. "Kami mulai menyadari keprihatinan bersama," ujar Yanweka, seorang pendiri milis. Yanweka bersama Eric Bovelender (wasit di Persekutuan Silat Antarbangsa), Luri Darmawan (pemilik host kioss.com), dan beberapa rekan lainnya lantas mendirikan situs  silatindonesia.com sebagai sarana mempromosikan silat di dunia maya. "Kami membuatnya karena sulit mencari informasi tentang silat Indonesia di Internet," kata Yanweka.

Informasi silat justru ditemukan dari situs-situs asing dan situs perguruan tertentu. Tidak mengikat Diskusi hangat di dunia maya lalu berlanjut pada pertemuan. Dari beberapa kali acara kopi darat, lahirlah kesepakatan membentuk organisasi yang menjadi wadah silaturahmi orangorang yang berempati terhadap perkembangan silat tradisional. Lahirlah Forum Pencinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia pada 10 Juni 2006. Karena berbentuk komunitas, forum ini tidak mengikat. "Semua orang berhak dan bebas untuk terlibat," kata Ery Nugroho, salah seorang pendiri. Untuk mengurusi organisasi ini, terbentuk pengurus dengan latar belakang yang beragam seperti pengacara, manajer keuangan, programer, atlet, wartawan, mahasiswa dan lainnya. "Kesamaan mereka cumasatu, sama-sama mencintai silat," kata Iwan Setiawan, seorang pengurus. Berbagai kegiatan pun digulirkan, seperti pemetaan dan dokumentasi beberapa perguruan silat yang berada di Jakarta dan sekitarnya.

Forum juga mengadakan diskusi bulanan untuk mengenalkan guru dan perguruan silat tersebut. "Informasi kami sebar melalui milis dan situs," kata Alda Amtha, koordinator forum. Kalau ada yang berminat belajar, Forum bersedia memfasilitasi tempat dan waktu. "Masalah iuran menjadi urusan guru atau perguruan yang bersangkutan," katanya. Aktivitas mereka me narik perhatian Pre siden Per sekutuan Pencak Silat Antar-Bangsa (Persilat) Eddie M. Nalapraya. Mantan Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia dan Wakil  Gubernur DKI Jakarta itu akhirnya bersedia menjadi pembina. Nama organisasi berubah menjadi Komunitas Sahabat Silat pada 2007.

Aktivitas komunitas pun menjadi semakin bervariasi, seperti program Wisata Silat ke Cianjur. "Di sana kami disambut meriah oleh bupati dan sesepuh maenpo (pencak) Cianjur," kata Alda. Saat ini sudah ada 25 perguruan yang terlibat dalam komunitas. Adapun jumlah peserta situs silatindonesia. org sudah mencapai 3.000 orang.

Source : http://lifestyle.kontan.co.id/news/mencegah-jurus-lokal-punah-1/2009/11/14

Kamis, 06 Oktober 2011

Mengenang Pencak Silat Paddjadjaran di Santa Lusia Cawang





Tidak sengaja saat bersama Om Google kami menemukan link yang sudah usang mengenai silat padjadjaran nasional di Santa Lusia, sayang juga dibuang maka dari itu kami coba masukkan di blog ini untuk kenang-kenangan bagi yang pernah disana atau pernah mampir di Santa Lusia Silat Club (SLSC)

Pencak Silat Padjadjaran Nasional merupakan kegitan Ekstrakulikuler di lingkungan Pendidikan Santa Lusia dan dikhususkan bagi siswa-siswi Santa Lusia maupun umum. Pencak Silat Padjadjaran Nasional diresmikan oleh Ibu Lusia Soetanto (Ketua Yayasan Pendidikan Santa Lusia) pada tanggal 22 November 1998, kegiatan olah raga Pencak Silat merupakan kegiatan yang sangat positif bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya bangsa kita.

Pencak Silat Padjadjaran Nasional didirikan oleh para siswa dan alumni Pendidikan Santa Lusia antara lain dari Pendidikan Komputer (PK&ASL), Pendidikan Sekretaris(PSSL) dan Bimbingan Belajar Santa Lusia( BBSL)



Susunan Pengurus Pencak Silat Ranting Pendidikan Santa Lusia
Periode Tahun 1998 - 2000
  • Pelindung (Ibu Lusia Soetanto - Ketua Yayasan Pendidikan Santa Lusia)
  • Pembina (Ir. Dewi Srigati - Kabag ODP & Operasional PK&ASL)
  • Koordinator (Yan WedyaKarma - Staf Akademik PK&ASL)
  • Ketua Ranting (Abdul Halim - Siswa PK&ASL)
  • Wakil (Aries Siswa PK&ASL)
  • Sekretaris (Robiana - Siswa PK&ASL)
  • Bendahara (Yulia Romamti - Sita Mashita (Siswa PK&ASL)
  • Humas (Imas Romlah - Siswa SLED)

Team Pelatih
  • Aria Tirta kusuma ( Alumni BBSL)
  • Soediro ( Alumni PK&ASL)
  • Wening Bertawati ( Siswa PSSL)
  • Imam Santoso


Pakaian Khas Silat
Pakaian Khas Pencak Silat Padjadjaran Nasionsal adalah hitam-hitam dengan Logo IPSI dan Logo Perguruan, Pakaian bagi anggota baru yang belum memiliki dapat mamakai kaos berwarna gelap atau pakaian traning dan bagi Anggota yang ingin membeli pakaian dapat membeli melalui Pengurus Pencak Silat Pendidikan Santa Lusia atau membeli di toko olah raga.

Hari Latihan
Latihan setiap hari minggu sore, jam 16.00 – 18.00 wib bertempat di lapangan Pendidikan Sekretaris Santa Lusia Cawang Jakarta Timur.

Banyak juga pelatih yang datang ke lokasi latihan, sayangnya banyak juga bukan pelatih resmi yang mengajar disana, dan maaf kalo kami tidak mengenalnya.


Demikianlah sekilas perguruan Pencak Silat Padjadjaran Nasional ranting Pendidikan Santa lusia, untuk penjelasan lebih lanjut dapat ditanyakan langsung kepada pengurus atau pelatih, semoga dengan berlatihan Pencak Silat dapat menambah kecintaan kita kepada budaya bangsa dan kitapun mendapatkan kesehatan dan beladiri tentunya. Akhir kata kami segenap pengurus ranting Pencak Silat Santa Lusia mengucapkan selamat bergabung semoga sukses.



INFORMASI PENTING:
Sejak Akhir Tahun 2002, Ranting ini dalam status tidak aktif, karena pendiri sudah tidak bekerja dilingkungan Yayasan Santa Lusia, Demikian informasi ini kami sampaikan namun bila ada pertanyaan kami siap menjawabnya.

Kamis, 24 Februari 2011

Festival Silat Merayakan Keragaman




Meski beragam, ada satu kesamaan yang menonjol dari indahnya seni silat ranah pasundan, yakni indahnya gerak silat itu sendiri. Tiada yang lebih bagus. Semua sederajat, sama-sama elok. Maka pantas bila keragamanlah yang dirayakan dalam pagelaran Festival Seni Silat kali ini

Selaras dengan semangat yang dibawa, pagelaran ini hanya menampilkan kekayaan seni gerak, olah napas, dan tari dari secuil wilayah bumi Jawa. Tak kurang dari 12 perguruan, gelaran bertajuk Festival Seni Pencak Silat Padjajaran Nasional ini menghadirkan berbagai macam pesona gerak tarung sekaligus tari dari ranah Sunda.

Kemeriahan makin lengkap dengan tampilnya beberapa perguruan Betawi yang di tahun lampau menjadi kebanggaan para jawara Batavia. Ada perguruan Putra Betawi. Ada juga Cingkrik Goning. Gelaran di Hall Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah ini pun riuh.

Ego Tersingkir

Tiada semangat ingin menang dari setiap pendekar yang tampil. Hanya mengagumi satu sama lain atas kekayaan indahnya gerak dan kekuatan pukulan, sapuan, tendangan, dan kuncian yang dimiliki. Karena itulah, di tempat ini ego tersingkirkan.

“Itulah arti festival, Mas,” ungkap Topan, salah satu koordinator Perguruan Padjajaran dari DKI Jakarta. Karena itu acara yang berlangsung Minggu, 28 Oktober lalu ini tidak dituturkan sebagai kejuaraan.
“Kalau diberi judul kejuaraan, Kita semua inginnya menang. Ego menjadi nomor satu dan dikedepankan. Padahal dalam dunia persilatan, pendekar sejati sebaiknya tidak menonjolkan ego,” jelas Topan.

Lalu, Topan pun bernarasi betapa pentingnya meletakkan ego. Menjadi pesilat itu, katanya, bukan untuk menjadi jagoan yang inginnya disegani siapa saja. “Bersilat itu adalah jalan untuk berkawan, alat untuk silaturahmi,” ujar Aziz Asyari, salah satu guru silat Cikalong menambahi.
Ini lebih merupakan acara merayakan indahnya keragaman seni dan kemenangan bersama. “Kita semua adalah pemenang,” ujar seorang pendekar.

Tampilnya Pendekar Manca

Tiada suara saling menjelekkan, meledek atau melontarkan kata-kata “huu…” melainkan hanya sorak dan tepuk riuh rendah menghangati suasana gelaran sehari ini. Seruan kebanggaan dan decak kagum pun makin meninggi tatkala dua orang pendekar manca negara tampil. Miguel dan Soora merapat ke arena. Berpasangan mereka suguhkan indahnya silat Sunda setelah tiga bulan berlatih tiada kenal lelah.

Selang beberapa tampilan, muncul lagi pendekar manca dari negerinya yang sama, Kincir Angin. Kali ini usianya lebih tua. Mr. Dick Van Reenee dengan lemah gemulai tapi berkekuatan menyodorkan indah, lembut namun kerasnya gerak seni Padjajaran.

“Saya sejak dahulu memang kagum dengan kebudayaan timur, terutama Jawa dengan silatnya. Selain saya memang suka berolahraga,” ujar pria yang ternyata dokter spesialis medical cek up ini.
Sebagai seorang dokter yang berlatar belakang pendidikan barat, Dick yang juga ketua perguruan silat Padjajaran Nasional se-Belanda ini menyadari betapa pagelaran ini merupakan wahana penting bagi bangkitnya seni budaya Nusantara.

“Ini memang baru yang pertama kali diadakan oleh perguruan Padjajaran, tapi gelaran yang sama sudah dilakukan oleh perguruan lain beberapa kali,” jelas Topan. Selanjutnya, tunggu saja tanggal mainnya.
Diselingi dengan tampilnya penari jaipong, festival ini makin memperjelas betapa kayanya ranah Sunda di mata kami semua para penikmat yang duduk di kejauhan. Gerak gemulai penari menandai eloknya jiwa dan rasa perasaan yang mencipta seni ini. @

Artikel ini di publikasikan di Tabloid GAYA HIDUP
penulis : Abdi (http://abdiganteng.multiply.com/)

Febri atlet SEA Games 2007 di Thailand

Dalam Tulisan ini ada sedikit yang beda yaitu kata2 “Ia tidak merasa masa
mudanya terampas karena menekuni pencak silat”, sungguh penulisnya sangat
cerdas dalam menuliskan kata2 sehingga dalam tulisan ini ada sesuatu
motivasi positif bagi pembaca “bahwa ikut silat juga punya masa depan”

selamat membaca

“Ia tidak merasa masa mudanya terampas karena menekuni pencak silat. ”

Buk! Kaki jagoan silat itu melayang cepat. Sambil menahan nyeri, lawannya
menghindar. Entah kenapa tayangan adu jotos di layar kaca itu tak membuat
gadis kecil tersebut ngeri. Ia malah semakin terkesima oleh adu tendangan
tersebut. Itulah tendangan yang mengubah sejarah Febriyani Nurkhasanah,
gadis kecil tersebut. Sejak menonton tayangan laga pencak silat dalam SEA
Games 1993, Febri–panggilan Febriyani–kecil bersumpah ingin menjadi atlet
pencak silat. Ia melupakan cita-cita menjadi dokter atau polisi–cita-cita
yang biasa hinggap di otak anak kecil.

Sejarah pun berpihak kepadanya. Empat belas tahun kemudian, yakni sekarang
ini, Febri telah melambung menjadi atlet pencak silat untuk SEA Games 2007
di Thailand. Ia kini mengikuti pemusatan latihan nasional pencak silat untuk
SEA Games 2007 di Pusat Pendidikan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara
Nasional Indonesia Angkatan Darat di Batu Jajar, Cimahi, Jawa Barat

Saat ditemui Tempo, Kamis lalu, di pemusatan latihan itu, Febri bercerita ia
adalah gadis pembelot. Sambil membanggakan seragam seragam loreng hijau
Kopassus yang ia kenakan, Febri menuturkan bahwa ayahnya, Kartidja, adalah
karateka yang sering tampil di aneka kejuaraan yang ditayangkan di televisi.

Ayahnya mewajibkan Febri berlatih karate. Awalnya gadis kecil itu menurut.
Namun, ia hanya bertahan dua kali latihan. Belakangan, gadis itu malas
belajar karate. Alasannya, ia benci dipaksa oleh pelatihnya melakukan split
(merentangkan dua kaki sampai lurus sejajar dengan lantai). Aku nggak tahan
dipaksa-paksa untuk bisa split. Padahal di silat pun nantinya ada ada
keharusan bahwa aku harus mampu melakukan split, ujarnya sembari tertawa.

Akhirnya, dengan sedikit adu argumentasi dengan ayahnya, Febri kembali
berlatih silat. Kebetulan di sekolah ada Perguruan Silat Padjadjaran
Nasional. Akhirnya, setelah naik ke kelas III sekolah dasar, Febri bergabung
dan mulai berlatih dengan serius.

Kejuaraan pada 1995 mengubah hidupnya. Febri saat itu mengikuti kejuaraan
untuk pertama kalinya di Kejuaraan Nasional Perguruan Padjadjaran di Bogor.
Ia turun di kelas C junior (42-45 kilogram) dan pulang membawa medali
perunggu.

Setelah kejuaraan itu, Febri makin rajin mencebur dalam berbagai kejuaraan.
Hasilnya? Ia tidak hanya mendapatkan medali, tapi juga deretan luka. Yang
penting adalah mendapat pengalaman, kata gadis ulet itu.

Jam terbang Febri yang makin tinggi mengantarnya ke pertandingan yang lebih
besar, yaitu Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat pada 1998 sebagai wakil Kota
Cirebon.

Dalam kejuaraan itu, Febri berhasil merebut emas dan berhak berlaga di
tingkat nasional. Sejak itulah Febri mulai mendulang banyak medali.

Koleksi medali yang diraih Febri ternyata tidak otomatis membuatnya mendapat
dukungan orang tuanya. Ibu Febri, Siti Maemunah, berkeras memintanya hanya
berkonsentrasi pada sekolah. Gadis penyuka matematika itu menolak. Ia
menunjukkan bukti bahwa silat tak menyurutkan prestasi akademiknya. Febri
pun berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri di Bandung melalui jalur
atlet. Pilihannya pun tidak tanggung-tanggung: jurusan matematika. Orang
tuaku tidak menyangka aku bisa lulus ujian, kata Febri.

Pada 2002, Febri mengikuti kejuaraan nasional tingkat dewasa untuk pertama
kali dan sekali lagi berhasil meraih emas. Sejak saat itu, jam latihannya
terus bertambah sehingga waktu senggangnya semakin berkurang. Namun, sesuai
dengan janjinya kepada orang tua, anak tertua dari tiga bersaudara ini
menempatkan pendidikan sebagai prioritas.

Jadi, ya, pulang latihan, istirahat sebentar, lalu belajar. Hampir tidak ada
waktu untuk kumpul-kumpul dengan teman, ujar Febri. Kendati begitu, ia tidak
merasa masa mudanya terampas. Ini bukan sekadar impian, ini hidupku, gadis
berjilbab ini menegaskan.

Pertandingan, buat Febri, selalu memberi kenangan sendiri. Ia memberi contoh
ihwal kekalahannya melawan Haryanti, atlet silat dari Sumatera Selatan.
Haryanti tiga kali mengalahkan Febri, bahkan dua kali dalam event yang sama.

Tiga kali kalah oleh dia, aku sempat berpikir, ‘Apakah aku akan buat rekor
jadi empat kali kalah?’ Tapi ternyata aku bermain dengan tenang dan lepas.
Akhirnya 5-0 buatku, ujarnya berbinar-binar.

Di dunia internasional pun Febri mulai mendapatkan perhatian khusus. Pada
pertandingan internasionalnya yang pertama di United Kingdom Open 2006,
Febri mendapat emas. Selanjutnya, ia mendapat perak di University Games di
Hanoi, Vietnam, pada tahun yang sama. Terakhir ia sukses dalam Belgia
Terbuka 2007 dengan merebut emas di kelas C putri sekaligus menjadi pesilat
terbaik.

Namun, ia masih belum puas. Targetnya adalah emas di SEA Games Thailand dan
Pekan Olahraga Nasional XVIII bagi Jawa Barat. Ia telah bersumpah menempa
dirinya sekeras mungkin.

Saat ini Febri sedang digembleng di Pusat Kopassus di Batu Jajar. Ia menilai
latihan yang banyak melibatkan anggota Kopassus itu sangat menyenangkan
karena tidak sekadar menempa fisik dan teknik, tapi juga mental. Aku tidak
akan melupakan pelatnas ini karena ini adalah pelatnas pertamaku dan
ternyata sangat menyenangkan, katanya.

Meskipun jauh dari orang tua, Febri mengaku tidak pernah tertinggal berita
apa pun karena setiap hari ia pasti menelepon sang mama. Bahkan, ketika
masih di Jakarta, kalau memungkinkan ia menyempatkan pulang ke Cirebon. Tapi
yang tidak pernah lepas dari pelukannya adalah boneka harimau kecil yang
diberi nama Maung.

Maung itu keberuntunganku. Aku tidak pernah pergi ke mana pun tanpa Maung.
Rasanya ada yang hilang deh kalau Maung tidak ada di tempat tidurku,
katanya.

Oleh : MUSLIMA HAPSARI
Koran Tempo Minggu, 30 September 2007